Literasi Digital Animasi Dunia Glen sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia di MI/SD

Main Article Content

Hemi Wulandari
Putri Meida Sari
Shima Mutmainna

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi informasi menuntut kita untuk memiliki pengetahuan dasar di bidang ini dengan konsep digital itu sendiri Kemampuan untuk menemukan sumber informasi yang dapat dipertimbangkan menjadi semakin penting dengan kemajuan teknologi digital saat ini. Terkait dengan literasi digital, semuanya membutuhkan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, membuat, mencerminkan dan beroperasi dengan perangkat digital yang berbeda, berbagai bentuk ekspresi dan strategi internal komunikasi. Artikel ini menyajikan refleksi awal tentang implikasi dan tantangan literasi digital dalam pembelajaran Bahasa terkait penerapan literasi digital. Dampak positif kompetensi digital terhadap pembelajaran bahasa, mis. H. 1) menunjang proses pembelajaran, 2) mengetahui cara membedakan sumber belajar yang nyata, bermakna dan dapat memberikan manfaat, dan 3) menciptakan peluang bagi guru untuk berbuat lebih banyak produktif saat menciptakan lingkungan belajar digital. Selain itu, dalam penerapan keahlian digital yang mendalam. Belajar bahasa tidak hanya menuntut guru untuk menguasai fungsi-fungsinya saja. Namun, perangkat dan perangkat lunak digital juga membutuhkan keterampilan yang kompleks seperti keterampilan Keterampilan Produksi, Keterampilan Foto-Visual, Keterampilan Hypertext, Keterampilan Evaluasi Informasi, dan keterampilan sosial-emosional. 

Article Details

How to Cite
Wulandari, H., Sari, P. M., & Mutmainna, S. (2023). Literasi Digital Animasi Dunia Glen sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia di MI/SD. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar , 4(1), 119-126. Retrieved from https://jurnal.unimen.cloud/MGR/article/view/5870
Section
Articles

References

Anggeraini, Y., Faridi, A., Mujiyanto, J., & Bharati, D. A. L. (2019). Literasi digital: Dampak dan tantangan dalam pembelajaran bahasa. In Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana (PROSNAMPAS) (Vol. 2, No. 1, pp. 386-389).
Djemari Mardapi (2004). Pedoman Umum Pengembangan Silabus. Dit.
Gilster, Paul. (1997). Digital Literacy. Canada: John Wiley & Sons, Inc.
Harjono, H.S. (2018). Literasi digital: Prospek dan implikasinya dalam pembelajaran bahasa. JurnalPendidikan Bahasa dan Sastra. 8(1), 1-7.
Jimoyiannis, A., & Gravani, M. (2011). Menjelajahi literasi digital orang dewasa menggunakan persepsi dan pengalaman pelajar dan pendidik: Kasus sekolah kesempatan kedua di Yunani. Jurnal Teknologi Pendidikan & Masyarakat, 14(1), 217-227.
Kurnianingsih, I., Rosini, R., & Ismayati, N.(2017). Upaya Peningkatan Kemampuan Literasi Digital Bagi Tenaga Perpustakaan Sekolah dan Guru di Wilayah Jakarta Pusat Melalui Pelatihan Literasi Informasi. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 61–76.
Mardapi, Djemani. 2004. Pedoman UmumPengembangan Silabus.Yogyakarta: Universitas NegeriYogyakarta.
Prakosa, Gotot,2010,Animasi Pengetahuan Dasar Animasi Indonesia.Jakarta.
Sudjana, Nana, Ahmad Rivai. 2007. MediaPengajaran. Bandung: Sinar BaruAlge Sindo.
Tantri, A.A.S. dkk. 2017. Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Program Budaya Literasi di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Banjar. Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat 2017. Universitas Mercubuana. 441-448.
Utami, D. (2011). Animasi Dalam Pembelajaran . Majalah Ilmiah Pembelajaran.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945