Post-Strukturalisme sebagai Strategi Kritik Radikalisme: Membangun Literasi Keagamaan Kritis dalam Pendidikan Islam
Main Article Content
Abstract
Maraknya narasi radikal di perguruan tinggi, dari kajian eksklusif hingga propaganda kekerasan berbasis agama, mencerminkan krisis epistemik dalam Pendidikan Islam konvensional. Pendekatan tradisional yang memutlakkan makna teks agama dan menguatkan oposisi biner tanpa disadari menjadi ladang subur bagi ekstremisme. Penelitian ini menggunakan pisau analisis post-strukturalis (Derrida, Foucault, Lyotard) untuk mendekonstruksi wacana keagamaan melalui metode kualitatif: analisis wacana kritis, observasi lapangan, dan pembacaan teks. Ditemukan bahwa narasi radikal dibentuk oleh rezim kebenaran yang monopolistik dan otoritas kharismatik. Dekonstruksi Derrida mengungkap ambiguitas makna dalam teks suci, membebaskan tafsir dari dominasi tunggal. Studi ini tidak berhenti pada kritik, tetapi menawarkan alternatif: model Pendidikan Islam yang mengganti metanarasi radikal dengan narasi-narasi lokal tentang toleransi dan dialog, sejalan dengan tradisi ta’wil dan ikhtilaf. Implikasi praktisnya mencakup kurikulum berbasis fluiditas makna, workshop dekonstruksi, dan simulasi dialog multisuara. Tujuannya: menjadikan kampus ruang tumbuh bagi critical believer—beriman, kritis, dan inklusif.